MAGERET PANDAN
Aci Perang Pandan terkait pelaksanaan upacara Usabha Sambah di Pura Puseh Desa Tenganan Paggringsingan, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali merupakan salah satu tradisi perang unik milik Pulau Bali. Atraksi perang pandan yang merupakan simbol prajurit kesatria dewa Indra ketika bertempur melawan menundukkan keangkaramurkaan Maya Danawa, sekaligus menggambarkan mitos sebagai wujud rasa bakti pada leluhur yang ditandai luka tetesan darah ketika megeret pandan.
Menurut buku cerita Usana Bali, disebutkan bahwa warga Desa Tenganan adalah merupakan keturunan dari warga Desa Peneges dilingkungan kerajaan Bedahulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Raja bertahta saat itu adalah Raja Maya Denawa yang berwatak kejam dan angkuh dan selama masa pemerintahannya, Maya Denawa tidak mengijinkan rakyatnya untuk ngaturan sembah (sembahyang) kehadapan para dewa. Hal hasil para dewapun mejadi murka, kemudian diutuslah dewa Indra (dewa perang) untuk memerangi Maya Denawa. Pada akhirnya Maya Denawa mengalami kekalahan. Sebagai ucapan trimakasih atas jasa dewa Indra, masyarakatpun mengadakan upacara yang disebut Aswameda Yadnya.
Saat sedang akan memulai yadnya, tiba-tiba kuda yang akan dijadikan caru yang disebut Onceswara menghilang. Dewa Indrapun menugaskan masyarakat Desa Peneges untuk mencari kuda tersebut. Warga dipecah menjadi dua kelompok, kelompok yang dipimpin oleh Ki Patih Tunjung Biru yang menuju arah timur berhasil menemukan kuda tersebut dalam keadaan mati, daerah tersebut saat ini dikenal dengan sebutan Batu Jaran. Dewa Indra kemudian memberikan hadiah kepada Ki patih dengan memberikan wilayah kekuasaan untuknya dengan wilayah yang mencangkup bau kuda yang sudah mati tesebut, Ki Patih mendapatkan daerah yang cukup luas karena dia memotong bangkai kuda tersebut dan menyebarkannya sejauh yang dia bisa lakukan. Itulah asal mula dari daerah Desa Tenganan. Untuk menghormati peristiwa tersebut maka di Desa Tenganan diadakan mageret pandan untuk memperingati keperkasaan Dewa Indra sebagai Dewa Perang.
Mageret pandan ini merupakan suatu permainan yang menjadi permainan wajib bagi truna-truna (remaja laki-laki) Desa Tenganan karena melambangkan keperkasaan seorang lelaki yang akan meneruskan tradisi Desanya, Permainan ini menggunakan perisai dari anyaman ate berbentuk bulat dan daun pandan berduri tajam yang dipegang dan dijadikan senjata untuk melukai lawan.Namun meskipun luka mereka tidak memiliki rasa dendam, yang ada hanyalah rasa gembira dan semakin terjalinnya persaudaraan. Luka yang mereka dapatkan dalam perang pandan diobati dengan boreh(obat tradisional) dari bahan dasar kunyit yang bertujuan untuk mengurangi rasa sakit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar