Rabu, 31 Oktober 2012

Mageret pandan "ii"

Mageret pandan 

Tradisi sakral Bali Aga ini menggunakan pandan berduri dan sangat tajam ini adalah unik dan menurut ramagita. Tradisi mageret pandan atau Perang Pandan (Mekare-karedilakukan selama tiga hari dan juga tradisi ini merupakan sarana latihan ketangkasan seorang prajurit dalam masyarakat Tenganan  sebagai penganut Agama Hindu aliran Dewa Indra sebagai Dewa Perang.


Yang terpenting dalam perang pandan tersebut tidak ada menang kalah. Kalau ada yang sampai terluka akibat goresan pandan akan diobati dengan obat yang telah disediakan yang berasal dari cuka kunir dan isen. Tak heran jika Perang pandan ini menjadi tontonan menarik bagi wisatawan lokal dan mancanegara.


Kepercayaan warga Tenganan agak berbeda dengan warga Bali pada umumnya dimana Umat Hindu Bali yang menjadikan Tri Murti sebagai dewa tertinggi. Namun bagi warga Tenganan, Dewa Indra sebagai dewa perang adalah dewa dari segala dewa.

Menurut sejarahnya Tenganan adalah hadiah dari Dewa Indra pada wong peneges, leluhur desa Tenganan Karangasem Bali.

Berikut pengertian saya tentang Mageret pandan. mohon maaf jika ada kesalahan karena saya bukan orang bali dan tentang mageret pandan ini saya dapatkan dari: 
http://senitradisionalbali.blogspot.com/2012/05/tradisi-mageret-pandan-perang-pandan.html

Rabu, 24 Oktober 2012

mageret pandan


MAGERET PANDAN 

Aci Perang Pandan terkait pelaksanaan upacara Usabha Sambah di Pura Puseh Desa Tenganan Paggringsingan, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali merupakan salah satu tradisi perang unik milik Pulau Bali. Atraksi perang pandan yang merupakan simbol prajurit kesatria dewa Indra ketika bertempur melawan menundukkan keangkaramurkaan Maya Danawa, sekaligus menggambarkan mitos sebagai wujud rasa bakti pada leluhur yang ditandai luka tetesan darah ketika megeret pandan.

Menurut buku cerita Usana Bali, disebutkan bahwa warga Desa Tenganan adalah merupakan keturunan dari warga Desa Peneges dilingkungan kerajaan Bedahulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Raja bertahta saat itu adalah Raja Maya Denawa yang berwatak kejam dan angkuh dan selama masa pemerintahannya, Maya Denawa tidak mengijinkan rakyatnya untuk ngaturan sembah (sembahyang) kehadapan para dewa. Hal hasil para dewapun mejadi murka, kemudian diutuslah dewa Indra (dewa perang) untuk memerangi Maya Denawa. Pada akhirnya Maya Denawa mengalami kekalahan. Sebagai ucapan trimakasih atas jasa dewa Indra, masyarakatpun mengadakan upacara yang disebut Aswameda Yadnya.

Saat sedang akan memulai yadnya, tiba-tiba kuda yang akan dijadikan caru yang disebut Onceswara menghilang. Dewa Indrapun menugaskan masyarakat Desa Peneges untuk mencari kuda tersebut. Warga dipecah menjadi dua kelompok, kelompok yang dipimpin oleh Ki Patih Tunjung Biru yang menuju arah timur berhasil menemukan kuda tersebut dalam keadaan mati, daerah tersebut saat ini dikenal dengan sebutan Batu Jaran. Dewa Indra kemudian memberikan hadiah kepada Ki patih dengan memberikan wilayah kekuasaan untuknya dengan wilayah yang mencangkup bau kuda yang sudah mati tesebut, Ki Patih mendapatkan daerah yang cukup luas karena dia memotong bangkai kuda tersebut dan menyebarkannya sejauh yang dia bisa lakukan. Itulah asal mula dari daerah Desa Tenganan. Untuk menghormati peristiwa tersebut maka di Desa Tenganan diadakan mageret pandan untuk memperingati keperkasaan Dewa Indra sebagai Dewa Perang.

Mageret pandan ini merupakan suatu permainan yang menjadi permainan wajib bagi truna-truna (remaja laki-laki) Desa Tenganan karena melambangkan keperkasaan seorang lelaki yang akan meneruskan tradisi Desanya, Permainan ini menggunakan perisai dari anyaman ate berbentuk bulat dan daun pandan berduri tajam yang dipegang dan dijadikan senjata untuk melukai lawan.Namun meskipun luka mereka tidak memiliki rasa dendam, yang ada hanyalah rasa gembira dan semakin terjalinnya persaudaraan. Luka yang mereka dapatkan dalam perang pandan diobati dengan boreh(obat tradisional) dari bahan dasar kunyit yang bertujuan untuk mengurangi rasa sakit.

Keluarga


KELUARGA

Om swastiastu

Rahajeng wengi para pembaca sekalian, perkenalkan nama saya Rizqisyah Nanda umur saya 16 tahun. Saya berasal dari Jakarta. Saya anak pertama dari 2 bersaudara. Ayah saya bernama Armansjah ibu saya bernama Ranina dan adik saya bernama Chacha. Dulu saya TK di dyan didaktika. Sedangkan sekolah dasar (SD) saya berpindah-pindah kelas 1-2 sd saya bersekolah di sd Menteng 02 Jakarta, 3-5 (semester 1) sd saya bersekolah di MacPherson primary school Singapore, dan kelas 5(semester 2)-6 sd saya bersekolah di sd Argentina Menteng Jakarta. SMP saya di smp perguruan cikini Jakarta dan SMA saya di sma Dyatmika Bali. Saya memilih untuk pindah ke bali karena bali kota atau pulau yang menurut saya bagus, damai, banyak tempat wisata, dan banyak suasana yang tenang dibandingkan Jakarta. Berikut ini adalah foto-foto saya dan keluarga saya

 Foto keluarga lebaran 2012


 Foto bersama adik saya pada saat lebaran 2012


Foto mama saya sewaktu di Singapore


 Foto saya dan adik saya sewaktu di Singapore


 Inilah keterangan tentang keluarga saya, Jika ada keslahan penulisan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena manusia tidak luput dari kesalahan.

om shanti shanti shanti om

Banjar


BANJAR

Om Swastiastu

Rahajeng wengi para pembaca sekalian, saya disini hanya ingin berbagi sedikit ilmu yang saya dapatkan ketika saya diajak berkunjung ke salah satu banjar yang letaknya berdekatan dengan sekolah saya, untuk mempersingkat waktu langsung saja saya mulai membahas tentang " Banjar"

Banjar dalam pandangan orang Bali sendiri merupakan sekumpulan organisasi masyarakat yang terdiri atas beberapa kepala keluarga. Banjar merupakan organisasi yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Bali. Sebuah banjar akan memiliki satu buah gedung khusus untuk tempat berkumpulnya anggota banjar, dan gedung tersebut diberi nama "Bale Banjar".Setiap desa di Bali pasti memiliki banjar beserta Bale Banjarnya, karena desa pekraman di Bali terbentuk dari beberapa banjar. Setiap banjar memiliki batas-batas tersendiri satu dengan yang lainnya, maka semakin luas setiap banjarnya akan semakin luas pula desa yang menaungi banjar-banjar tersebut.

Banjar Tangtu merupakan banjar yang masih sangat sederhana jika dilihat dari kehidupan masyarakatnya. Justru dari kesederhanaan itulah memunculkan daya tarik yang besar untuk lebih mengenal Banjar Tangtu. Jumlah kepala keluarga yang bernaung dibawah banjar Tangtu adalah sekitar 120 kk. Banjar ini dipimpin oleh seseorang yang disebut "Kelian Banjar", Kelian Banjar dalam tugasnya dibantu oleh Penyarikan (sekretaris), Juru Raksa (bendahara), dan yang paling penting adalah Krama Banjar (anggota banjar).
Kelian Banjar dipilih setiap 5 tahun sekali oleh anggota banjar secara demokratis. Tugas dari seorang Kelian Banjar adalah mengatur jalannya pemerintahan di banjar. Rapat banjar biasanya sering disebut "Sangkep", khusus untuk Banjar Tangtu sangkep diadakan setiap kajeng kliwon. Pada setiap sangkep diharapkan setiap kepala keluarga dengan perwakilannya masing-masing dapat hadir karena sangkep disetarakan dengan rapat-rapat penting kenegaraan namun dalam konteks yang lebih kecil dan sempit. Dalam sangkep segala sesuatu yang menyangkut kepentingan banjar akan dibicarakan dengan terbuka dihadapan seluruh anggota banjar. Kelian berhak memutuskan tindakan apa saja yang harus diambil jika banjar mengalami suatu permasalahan maupun situasi yang kritis, tentunya keputusan diambil dengan jalan musyawarah mufakat antar anggota banjar.

Banjar juga menaungi beberapa organisasi, diantaranya adalah :
PKK ( Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) yang sangkep setiap tanggal 5.
Pecalang adalah organisasi yang bertugas mengamankan daerah banjar.
STT (Seka Truna Truni) adalah kumpulan remaja yang memiliki ide dan kreativitas yang tinggi.
Seka Gong adalah grup instrumen yang memainkan instrumennya pada saat tertentu.
Posyandu adalah tempat untuk memeriksakan kesehatan ibu dan anak setiap bulan.
Poskamling tempat nongkrongnya pecalang.
Dharma Gita adalah kelompok paduan suara milik banjar, untuk kegiatan keagamaan.
Kepala Dusun atau Kelian Banjar.
Koperasi yang buka setiap hari jumat dan selasa dan hanya beroprasi dimalam hari.
Paud ( Pendidikan Anak Usia Dini) Prima Duta

Inilah Bali, pulau dewata yang kaya akan tradisi. Saya harap para pembaca sekalian dapat sedikit gambaran tentang banjar. Jika ada keslahan penulisan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena manusia tidak luput dari kesalahan.

Om Santhi, Santhi, Santhi Om

Banjar


BANJAR

Om Swastiastu

Rahajeng wengi para pembaca sekalian, saya disini hanya ingin berbagi sedikit ilmu yang saya dapatkan ketika saya diajak berkunjung ke salah satu banjar yang letaknya berdekatan dengan sekolah saya, untuk mempersingkat waktu langsung saja saya mulai membahas tentang " Banjar"

Banjar dalam pandangan orang Bali sendiri merupakan sekumpulan organisasi masyarakat yang terdiri atas beberapa kepala keluarga. Banjar merupakan organisasi yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Bali. Sebuah banjar akan memiliki satu buah gedung khusus untuk tempat berkumpulnya anggota banjar, dan gedung tersebut diberi nama "Bale Banjar".Setiap desa di Bali pasti memiliki banjar beserta Bale Banjarnya, karena desa pekraman di Bali terbentuk dari beberapa banjar. Setiap banjar memiliki batas-batas tersendiri satu dengan yang lainnya, maka semakin luas setiap banjarnya akan semakin luas pula desa yang menaungi banjar-banjar tersebut.

Banjar Tangtu merupakan banjar yang masih sangat sederhana jika dilihat dari kehidupan masyarakatnya. Justru dari kesederhanaan itulah memunculkan daya tarik yang besar untuk lebih mengenal Banjar Tangtu. Jumlah kepala keluarga yang bernaung dibawah banjar Tangtu adalah sekitar 120 kk. Banjar ini dipimpin oleh seseorang yang disebut "Kelian Banjar", Kelian Banjar dalam tugasnya dibantu oleh Penyarikan (sekretaris), Juru Raksa (bendahara), dan yang paling penting adalah Krama Banjar (anggota banjar).
Kelian Banjar dipilih setiap 5 tahun sekali oleh anggota banjar secara demokratis. Tugas dari seorang Kelian Banjar adalah mengatur jalannya pemerintahan di banjar. Rapat banjar biasanya sering disebut "Sangkep", khusus untuk Banjar Tangtu sangkep diadakan setiap kajeng kliwon. Pada setiap sangkep diharapkan setiap kepala keluarga dengan perwakilannya masing-masing dapat hadir karena sangkep disetarakan dengan rapat-rapat penting kenegaraan namun dalam konteks yang lebih kecil dan sempit. Dalam sangkep segala sesuatu yang menyangkut kepentingan banjar akan dibicarakan dengan terbuka dihadapan seluruh anggota banjar. Kelian berhak memutuskan tindakan apa saja yang harus diambil jika banjar mengalami suatu permasalahan maupun situasi yang kritis, tentunya keputusan diambil dengan jalan musyawarah mufakat antar anggota banjar.

Banjar juga menaungi beberapa organisasi, diantaranya adalah :
PKK ( Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) yang sangkep setiap tanggal 5.
Pecalang adalah organisasi yang bertugas mengamankan daerah banjar.
STT (Seka Truna Truni) adalah kumpulan remaja yang memiliki ide dan kreativitas yang tinggi.
Seka Gong adalah grup instrumen yang memainkan instrumennya pada saat tertentu.
Posyandu adalah tempat untuk memeriksakan kesehatan ibu dan anak setiap bulan.
Poskamling tempat nongkrongnya pecalang.
Dharma Gita adalah kelompok paduan suara milik banjar, untuk kegiatan keagamaan.
Kepala Dusun atau Kelian Banjar.
Koperasi yang buka setiap hari jumat dan selasa dan hanya beroprasi dimalam hari.
Paud ( Pendidikan Anak Usia Dini) Prima Duta

Inilah Bali, pulau dewata yang kaya akan tradisi. Saya harap para pembaca sekalian dapat sedikit gambaran tentang banjar. Jika ada keslahan penulisan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena manusia tidak luput dari kesalahan.

Om Santhi, Santhi, Santhi Om